oleh

Kasus Penganiayaan Terhadap Wartawan Divonis Satu Bulan Penjara

KAUR, REALITASTERKINI.com – Terdakwa penganiayaan Wartawan Media Online, Hendro, hanya dijatuhkan vonis satu bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kelas II Bintuhan Provinsi Bengkulu,  Rabu (14/8/19). Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Iwan Setiadi,SH, yang menuntut selama dua bulan penjara dan denda Rp.5.000.

Terdakwa Hendro dinyatakan bersalah karena menurut Hakim Memastikan adanya penganiyayaan terhadap korban Aprin Taskan Yanto dengan dibuktikan dari hasil visum dokter.

Menurut Humas Pengadilan Negeri Bintuhan sekaligus Hakim Frif Erlangga,SH mengatakan, sebagai dasar utama dalam memutuskan terhadap pelaku penganiyaya wartawan media online tersebut selalu merujuk pada fakta dipersidangan.

Lanjutnya mengatakan, adanya bukti perdamaian antara pelaku dengan korban, sehingga ini menjadi dasar dalam memutuskan 1 bulan putusan, terkait perdamaian itu dalam kondisi terpaksa atau tidak Hakim tidak menilai dari sana.

“Dakwaan dalam kasus ini sifatnya tunggal yaitu pasal 351 KUHP, tidak ada pasal lain yang menjadi pertimbangan lainnya”, jelasnya.

Frif menambahkan Hakim dalam memutuskan sebuah perkara tidak terpengaruh terhadap pembicaraan sisi lain diluar persidangan,  sehingga keputusan yang diambil memiliki asas keadilan, untuk itu pelaku dipastikan ditahan selama satu bulan penjara dikurang masa tahanan, sebelum keluarga pelaku meminta penangguhan. pungkas Frif dengan awak media diruang humas Pengadilan Negri Bintuhan.

Sementara Arsis Barwi,SH Masyarakat Peduli Hukum di Kaur, menyayangkan dari proses tuntutan JPU dan Hakim yang akhirnya pelaku penganiayaan hanya di vonis satu bulan penjara katanya merujuk pada pasal 351 KUHP Semestinya pelaku  layak dituntut minimal 1 tahun penjara.

“Ini patut dipertanyakan akan hasil akhir peristiwa penganiyayaan ini  yang jauh dari keadilan bagi masyarakat”, ungkap Arsis.

Arsis menambahkan, untuk analisa hukum saat ini, sangat sulit untuk ditegakkan apalagi kalau masih ada hubungan persaudaraan antara pelaku dengan aparat penegak hukum. Sesal Arsis. (ROSITA)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.