oleh

Indeks Ketahan Pangan Dalam Pengelolaan SDA di Kabupaten Kaur

Oleh : SARYOTO, REFLIS -Jumat, 4 Oktober 2019


 “Menurut WHO (World Health Organization) mendefinisikan tiga komponen utama ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan”.

Kaur, REALITASTERKINI.comKetersediaan pangan adalah kemampuan memiliki sejumlah pangan yang cukup untuk kebutuhan dasar. Akses pangan adalah kemampuan memiliki sumber daya, secara ekonomi maupun fisik, untuk mendapatkan bahan pangan bernutrisi. Pemanfaatan pangan adalah kemampuan dalam memanfaatkan bahan pangan dengan benar dan tepat secara proposional. FAO menambahkan komponen keempat, yaitu kestabilan dari ketiga komponen tersebut dalam kurun waktu yang Panjang.

Ketahanan Pangan, berdasarkan definisi  Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, adalah suatu kondisi terpenuhinya pasokan pangan bagi negara sampai dengan perseorangan untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara ber kelanjutan. Hal ini tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat.

Definisi mirip juga jadi pijakan Badan Pangan Dunia (FAO), bahwa ketahanan pangan terjadi saat semua orang, sepanjang waktu punya akses fisik dan ekonomi terjaga kebutuhan dan nutrisi pangan untuk kehidupan yang sehat dan aktif. Ketahanan pangan menjadi salah satu fokus negara-negara di dunia tak hanya Indonesia. Ini karena produktivitas suatu negara berkaitan dengan kebutuhan pangan warganya yang tercukupi. Indeks ketahanan pangan global Global Food Security Index/GFSI, hasil kerjasama The Economist dan perusahaan sains bidang pangan Corteva, menunjukkan ketahanan pangan Indonesia memang ada perbaikan setidaknya sejak 2012.

Pemerintah melalui BKP, Kementerian Pertanian, sudah menyusun Indeks Ketahanan Pangan (IKP). Ada Sembilan Indikator  yang merupakan turunan dari tiga aspek ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan. Selanjutnya, IKP dikelompokkan dalam enam kelompok, angka enam paling punya ketahanan pangan dan angka satu sebagai wilayah yang paling rentan pangan.

Sembilan indikator yang dipilih sebagai dasar penentuan IKP adalah sebagai berikut:

  1. Rasio konsumsi normatif per kapita terhadap ketersediaan bersih. Rasio konsumsi normatif per kapita terhadap ketersediaan bersih padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar.
  2. Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Indikator ini menunjukkan nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk hidup secara layak.
  3. Persentase rumah tangga dengan proporsi pengeluaran untuk pangan lebih dari 65 persen terhadap total pengeluaran. Distribusi pengeluaran untuk pangan dari total pengeluaran merupakan indikator proksi dari ketahanan pangan rumah tangga. Teori Engel menyatakan semakin tinggi tingkat pendapatan maka persentase pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi pangan akan mengalami penurunan.
  4. Persentase rumah tangga tanpa akses listrik. Tersedianya fasilitas listrik di suatu wilayah akan membuka peluang yang lebih besar untuk akses pekerjaan.
  5. Rata-rata lama sekolah perempuan diatas 15 tahun. Rata-rata lama sekolah perempuan adalah jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk perempuan berusia 15 tahun keatas dalam menjalani pendidikan formal.
  6. Persentase rumah tangga tanpa akses air bersih. Persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih yaitu persentase rumah tangga yang tidak memiliki akses ke air minum yang berasal dari air leding/PAM, pompa air, sumur atau mata air yang terlindung dan air hujan (tidak termasuk air kemasan) dengan memperhatikan jarak kejamban minimal 10 m.
  7. Rasio jumlah penduduk per  tenaga kesehatan terhadap tingkat kepadatan penduduk. Total jumlah penduduk  ber jumlah tenaga kesehatan (dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga gizi, tenaga keterapian fisik, dan tenaga keteknisian medis) dibandingkan dengan tingkat kepadatan penduduk.
  8. Persentase balita dengan tinggi badan di bawah standar (stunting). Balita stunting adalah anak dibawah lima tahun yang tinggi badan nya kurang dari -2 Standar Deviasi (-2 SD) dengan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) dari referensi khusus untuk tinggi badan terhadap usia dan jenis kelamin (Standar WHO, 2005).
  9. Angka harapan hidup pada saat lahir. Perkiraan lama hidup rata-rata bayi baru lahir dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas sepanjang hidupnya. Angka harapan hidup merupakan salah satu indikator tingkat kesehatan masyarakat.

Provinsi Bengkulu memenilik IKP pada tahun 2018. Berdasarkan hasil analisis, semua indikator individu dipetakan di tingkat kabupaten dan menggambarkan keamanan pangan dan gizi di 119 kecamatan di 9 kabupaten. Peta-peta yang dihasilkan menggunakan pola warna seragam dalam nuansa merah dan hijau. Nuansa merah menunjukkan berbagai tingkat kerawanan pangan, sementara nuansa hijau menggambarkan status relatif  lebih baik. Dalam kedua warna (merah dan hijau), nuansa gelap menunjukkan derajat lebih tinggi dari ketahanan atau kerawanan pangan.

Kabupaten Kaur adalah sebuah kabupaten di provinsi BengkuluIndonesia. Terletak sekitar 250 km dari kota Bengkulu, Kaur mempunyai luas sebesar 2.369,05 km² dan dihuni sedikitnya 298.176 jiwa. Mereka mengandalkan hidup pada sektor pertanian, perdagangan, perkebunan, dan perikanan. Kabupaten Kaur dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003 pada tahun 2003 bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Seluma dan Kabupaten Mukomuko. Kaur sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Bengkulu Selatan.

Kaur sejak tahun 2005 mulai memproduksi fermentasi alami minyak kelapasawit yang diekspor keluar negeri, pertanian (swasembada), batubara, pasir besi, batu, dan pasir tambang, karet, cengkih, lada, kopra, palawija (kacang hijau, ubikayu, dan ubijalar yang cukupluas), jahe gajah, perikanan laut, perikanan air tawar, lobster, dan lain-lain.

Kabupaten ini sedang merencanakan peningkatan mutu kualitas wilayahnya. Pemkab Kaur berencana membuat saluran irigasi yang juga terletak di kecamatan Kaur Utara, yang nantinya mampu mengairi lahan sawah hingga 8.000 hektare. Selainitu, pembuatan jalan tembus sepanjang 150 kilometer yang menghubungkan wilayah Kaur Utara hingga perbatasan provinsi Lampung, juga sedang diupayakan.

Kabupaten Kaur semakin hari juga semakin jelas perkembangannya dari semua sektor, Pemerintah Daerahnya juga mendapatkan penghargaan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK dari segi laporan keuangan daerahnya.

Kabupaten Kaur juga merupakan daerah tujuan Transmigran lokasinya seperti Ulu Tetap Kecamatan Tetap, Nasal, Semidang Gumay.

Kabupaten Kaur alamnya nyaris paling makmur di Provinsi Bengkulu dengan tingkat penegakan nilai-nilai adat  yang masih dijunjung bersama.

Karet banyak di jumpai di Kecamatan Tetap yang merupakan daerah unggulan sektor perkebunan ini.

Tabel. Kecamatan yang paling rentan berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan Komposit (Dinas Ketahanan Pangan Provinsi  Bengkulu, 2018) :

No. KABUPATEN KECAMATAN Peringkat Prioritas
1. BENGKULU TENGAH BANG HAJI 119 3
2. MUKOMUKO AIR DIKIT 118 3
3. BENGKULU UTARA KETAHUN 117 3
4. BENGKULU UTARA ULOK KUPAI 116 3
5. SELUMA LUBUK SANDI 115 3
6. BENGKULU UTARA GIRI MULYA 114 4
7. MUKOMUKO AIR RAMI 113 4
8. BENGKULU UTARA NAPAL PUTIH 112 4
9. SELUMA AIR PERIUKAN 111 4
10. KEPAHIANG MUARA KEMUMU 110 4
11. LEBONG LEBONG UTARA 109 4
12. MUKOMUKO KOTA MUKOMUKO 108 4
13. KAUR NASAL 107 4
14. REJANG LEBONG CURUP 106 4
15. REJANG LEBONG PADANG ULAK TANDING 105 4
16. BENGKULU UTARA PINANG RAYA 104 4
17. KAUR MAJE 103 4
18. MUKOMUKO TERAS TERUNJAM 102 4
19. BENGKULU TENGAH PEMATANG TIGA 101 4
20. BENGKULU TENGAH MERIGI SAKTI 100 4
21. BENGKULU TENGAH MERIGI KELINDANG 99 4
22. BENGKULU SELATAN PASAR MANNA 98 4
23. MUKOMUKO PENARIK 97 4
24. BENGKULU TENGAH PAGAR JATI 96 4
25. BENGKULU TENGAH TABA PENANJUNG 95 4
26. BENGKULU UTARA PUTRI HIJAU 94 4
27. KAUR KAUR SELATAN 93 4
28. KAUR MUARA SAHUNG 92 4
29. BENGKULU SELATAN KOTA MANNA 91 4

Berdasarkan data tersebut Kabupaten Kaur berada pada daerah prioritas 4 dengan nilai 93 di Kecamatan Kaur Selatan dan 92 di Kecamatan Muara Sahung.

 Perlu diperhatikan beberapa Pilar  ketahan panpangan, yaitu :

  1. Ketersediaan pangan berhubungan dengan suplai pangan melalui produksi, distribusi, dan pertukaran.
  2. Akses terhadap bahan pangan mengacu kepada kemampuan membeli dan besarnya alokasi bahan pangan, juga faktor selera pada suatu individu dan rumah tangga.Terdapat dua perbedaan mengenai akses kepada bahan pangan. (1) Akses langsung, yaitu rumah tangga memproduksi bahan pangan sendiri, (2) akses ekonomi, yaitu rumah tangga membeli bahan pangan yang diproduksi di tempat lain.
  3. Ketika bahan pangan sudah didapatkan, maka berbagai faktor mempengaruhi jumlah dan kualitas pangan yang dijangkau oleh anggota keluarga. Bahan pangan yang dimakan harus aman dan memenuhi kebutuhan fisiologis suatu individu.
  4. Stabilitas pangan mengacu pada kemampuan suatu individu dalam mendapatkan bahan pangan sepanjang waktu tertentu. Kerawanan pangan dapat berlangsung secara transisi, musiman, ataupun kronis (permanen). Stabilitas pangan merupakan taraf tertinggi dari tingkatan kepemilikan atau penguasaan pangan. Urutan tingkatan yang dimaksud mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah pertama : ketahanan pangan, kedua : kemandirian pangan, dan ketiga: ketangguhan atau stabilitas pangan.

Tantangan untuk mencapai ketahanan pangan, yaitu :

  1. Pertanian intensif mendorong terjadinya penurunan kesuburan tanah dan penurunan hasil.
  2. Hama dan penyakit. Hama dan penyakit mampu mempengaruhi produksi budidaya tanaman dan peternakan sehingga memiliki dampak bagi ketersediaan bahan pangan.
  3. Krisis air global. Berbagai negara di dunia telah melakukan importasi gandum yang disebabkan oleh terjadinya defisit air dan kemungkinan akan terjadi pada negara besar seperti China dan India.
  4. Perebutan lahan. Kepemilikan lahan lintas batas negara, dalam negara maupun tingkat provinsi dan daerah,semakin meningkat.
  5. Perubahan iklim. Fenomena cuaca yang ekstrem seperti  kekeringan  dan banjir diperkirakan akan meningkat karena perubahan iklim terjadi. Kejadian ini akan memiliki dampak di sektor pertanian. Diperkirakan pada tahun 2040, hampir seluruh kawasan sungai Nil akan menjadi padang pasir di mana aktivitas budidaya tidak dimungkinkan karena keterbatasan air.

Sumber  :

Indeks Ketahanan Pangan di Indonesia

Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu

Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kaur

https://bkp.pertanian.go.id/

https://tirto.id/dhNr

https://wikipedia.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.