oleh

Mata Hati Buta, Nurani Pun Tak Bersuara

Oleh  YAYAN JUNIARSYAH DJOYO


Mengenakan jas, rapi, gagah dan berwibawa, didepan publik ibarat kata “Mafia Hongkong”. Perasaan komplit ternikmati oleh psikologi individu nan sangat Nasionalis, pilu, sedih menggugah dan tanpa mengurangi rasa hormat, siapapun mereka, baik pelaku utama (Perorang, kelompok /aliansi dan lain sebagainya), juga aktor aktor intelektual, mereka adalah orang orangan (boneka hidup) yang dangkal logika, pengecut tak berjiwa besar, meski mewah, rapi berdasi mereka adalah populasi perusak moral bangsa.

“Kenapa ?”, ya mari kita sama sama jujur kepada diri sendiri dulu untuk mempertegas makna pikir, kemudian ayo kita pastikan bahwa kejujuran dalam kebenaran hakiki itu adalah power in power yang bisa menetralisir metacriminality (kejahatan di atas kejahatan).

Penyebab dari hal-hal yg dimaksudkan ialah lemahnya SDM/individu dalam menghargai keputusan, toleransi kebersamaan (min),juga ditambahkan pula dengan banyaknya pejabat/politisi munafik, serta para pemimpin pemimpin goblok sehingga ke semerawutan ini menjadi coreng bagi para leluhur dan segenap sanak family lainnya yang bertumpah darah tanah air serepat serasan.

Banyaknya peristiwa dalam tatanan kemasyarakatan, gejolak di lingkungan pemerintahan daerah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan dinamika persekutuan, perseteruan hingga permusuhan para wakil-wakil RAKYAT di DPRD PALI, yang paling menjadi sorotan ialah MINDSED-nya.

Kenapa mindsed begitu penting ?, karena pondasi yg menjadi dasar dalam komponen agar DIA-nya/sang wakil rakyat tersebut benar benar mampu menjadi wakil rakyat yang BUDIMAN walau korupsi tak terelakkan olehnya, tetap saja disebut sebagai KORUPTOR BUDIMAN.

Nah, ini sangat rasional dan ter-logika oleh masyarakat bahkan ke masyarakat yang minoritas, semua hampir bisa menjelaskan tentang kinerja DPRD yang BURUK. Tentu saja terlepas dan  lahir dari sosial-masyarakat minoritas juga, ya ikut mengiyakan kebobrokan pola pikir DPRD-percaleg-ditambah-yang sudah jadi-plus yang jadi kembali. Hal ini  hampir setiap pondok tempat masyarakat pada umumnya bercengkrama bebas lepas semua menyatakan itu. Jadi, membudayanya pandangan masyarakat disebabkan pola pikir si DPRD-nya sendiri. Iya atau tidak tentang hal ini mari kita jujur kepada diri sendiri.

Sebenarnya, mungkin tak semua DPRD demikian, pasti masih ada saatu atau dua orang yang kompeten dan dapat dipercaya masyarakat. Untuk itu, kepada kita sebagai warga yang baik jangan sampai kita terjebak dalam pembodohan publik yang sangat merusak mentalitas kita. Berharap kita semua kian cerdas dalam segala hal.

Alasan dari kesemua yang tertulis ialah,  mereka saat pengkaderan atau dikaderkan, para kaderisasi tidak memahami makna tunggal sebagai orang legislatif, apalagi pemahaman tentang MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA yang Ilmunya merumuskan tentang pendekatan teoretik dan praktik untuk organisasi publik.

Faktor aktor kondisional yang menyebabkan pegawai atau pejabat baik pejabat lini, menengah hingga puncak berlaku Culas dan tidak cerdas dalam mengedepankan laku kerja yg baik tersebabkan oleh tidak memahaminya manajemen sumber daya manusia.

Dalam kontribusi menganalisa sebuah manajemen manusia dalam organisasi publik, dengan menggunakan pisau analisis yang lebih kontekstual. Karena ini sangat penting sekali bagi para organisatoris dan aktor publik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.