oleh

Dinamika Pilgub Bengkulu

Oleh: Medio Yulistio, SE

Perhelatan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (pilgub) Bengkulu 2020 hanya menunggu waktu beberapa bulan. Namun dinamika belum dirasakan secara ekspilit, dan belum memberi “kepastian” kepada publik secara terang-terangan kontestan (baik calon Gubernur maupun wakil Gubernur) kandidat calon yang akan memeriahkan pesta demokrasi nantinya. Masalahnya, ada beberapa faktor penyebab Pilgub kali ini belum terlalu hingar bingar dalam pandangan publik yang memiliki mata pilih kurang lebih 1.8 juta jiwa.

Pertama, apatisme masyarakat terhadap momentum politik di Prov. Bengkulu. Berdasarkan fakta bahwa hampir setiap pelaksaan Pemilihan Kepala Daerah selalu diikuti oleh angka Golput yang tinggi. Ini juga memberikan pengertian bahwa masyarakat Provinsi Bengkulu sudah terpolarisasi untuk berpikir (cenderung) taktis bahkan pragmatis. Masyarakat seperti kehilangan kepercayaan kepada aktor politik dan tidak menganggap lagi urgensi pentingnya kepemimpinan kedepan hadir sebagai pintuk masuk perubahan kehidupan yang lebih baik.

Kedua, seluruh alat peraga calon tidak menyampaikan pesan program yang menggugah masyarakat. Semua hanya menampilkan kesan-kesan (kebaikan) secara pribadi. Tidak ada isu strategis program yang berkenaan langsung dengan persoalan dimasyarakat secara holistik. Padahal, rata-rata calon adalah (mantan) Kepala Daerah bahkan kepala daerah yang sedang menjabat; tingkatan provinsi, kabupaten atau kota.

Ketiga, tim dan relawan (infrastruktur pemenangan politik) yang dibangun tidak mampu mengkanal kekuatan basis jaringan diakar rumput. Semua masih mengandalkan isu identitas dan belahan dari basis wilayah per-wilayah. Semua berkutat dan di generalisir dalam kacamata demografis politik di provinsi Bengkulu.

Dari ketiga poin diatas tentu menghadirkan kekhawatiran bagi kehidupan praktik demokrasi kita (khususnya) di Provinsi bengkulu. Semua stakholder harus bekerja keras dalam memberikan teladan dan pendidikan politik diseluruh tingkatan masyarakat. Demokrasi langsung harus dikembalikan menjadi jalan utama yang ditempuh civil society dalam memperjuangkan kesejateraan yang didalamnya keadilan mampu di-distribusikan secara merata.

Maka dari itu, langkah-langkah strategis dari pasangan calon harus segera dijalankan. Tidak hanya melalui media massa atau media sosial dan alat peraga, dibangunnya ruang interaktif yang dialogis adalah kebutuhan yang harus dijawab.

Berikut Peta Prediksi Politik Pilgub Provinsi Bengkulu Ditinjau Dari Beberapa Aspek.

Pertama secara kepartaian,  sesungguhnya pilgub kali ini tidak hanya diukur oleh kapasitas figur calon saja, tapi juga harus dinilai dengan kekuatan partai politik pendukungnya. Sebab dominasi pemilih yang diraup partai pada pemilihan legislatif (yang bersamaan) dengan pemilihan Presiden sebelumnya harus menjadi tolak ukur kemenangan. PDIP, Golkar dan gerindra mewakili hampir sebagian besar (deskripsi sosiopolitik) suara masyarakat provinsi bengkulu 2019.

Namun juga tidak bisa disepelekan, PKB, Demokrat, PAN, PKS, PPP, dan Hanura memiliki potensi dengan kelembagaan yang mumpuni serta soliditas militansi kader yang erat. Jika kekuatan ini mampu di konsolidasikan, maka garak mesin parpol akan menciptakan political shock dalam pilgub provinsi Bengkulu.

Kedua, kemenangan pemilihan kepala daerah juga bersinggungan langsung kepada figur pasangan calon (Gubernur dan Wakil Gubernur). Kekuatan individu pasangan calon dengan kekuatan partai politik pengusung sebagai mesin pemenangan sangat inheren. Dalam hal ini incumbent (Rohidin Mersyah) seharusnya lebih unggul (signifikan) dari pasangan lainnya. Sebab investasi kepemimpinan yang sedang dijalani adalah modal penting untuk merebut kepercayaan masyarakat.

Tapi dengan melihat rilis data survey yang dilaksanakan Diaspora Research Strategy menepis “kebiasaan” bahwa incumbent berdiri pada posisi aman. Dalam data yang ditampilkan; Rohidin Mersyah (pengenalan 79,1%, kesukaan 70,0%) justru berada pada angka yang sangat mengkhawatirkan yang disusul rival-rivalnya.

Kita lihat bersama, Agusrin M Najamudin yang hari ini masih belum memastikan maju dalam perhelatan pilgub, tanpa alat peraga dan mesin pemenangan (walaupun tertinggal oleh incumbent) masih memiliki selisih persentase yang sangat tipis; (pengenalan 76,4% dan kesukaan 79,6%). Lalu kemudian disusul Walikota Bengkulu Helmi hasan yang bekerja keras memaksimalkan mesin pemenangannya 3 bulan terakhir juga memiliki trend positif dan dapat dilihat dalam angka (pengenalan 64,8% dan kesukaan 71,9%).

Dan kemudian berturut-turut disusul oleh Ahmad Hijazi (pengenalan 57,1% dan kesukaan 52,4%), Imron Rosadi (pengenalan 56,6% dan kesukaan 59,4%) dan kandidat calon lainnya yang berada pada angka 40% kebawah yaitu; Izda Putra, Feri Ramli, Rosjonsah Syahili, Ahamd Kanedi dan lainnya.

Ketiga, ketepatan dalam memilih calon Gubernur sangat menentukan. Dengan angka yang didapatkan oleh survey diatas, Rohidin Mersyah, Agusrin M Najamudin dan Helmi Hasan memiliki jarak yang sangat tipis. Justru jika kita berterus terang, incumbent harus sangat bekerja keras dalam memenangkan pilgub Bengkulu.

Bayangkan saja, Agusrin M Najamudin yang tidak pernah turun kebawah dan menyampaikan keinginannya dalam pencalonan Gubernur provinsi Bengkulu 2020, tidak memiliki mesin pemenangan dan alat peraga masih berada dalam ingatan kolektif masyarakat.

Jadi, perlu kemudian (khusus) pada incumbent dalam menentukan sosok calon wakil Gubernur nantinya harus penuh dengan perhitungan yang matang. Jika salah dalam menginterpretasikan potensi kemenangan, adagium bahwa incumbent pasti bisa memenangkan pilkada akan bertolak belakang pada hasilnya nanti.

Membedah Rekam Jejak Dan Platform Pembangunan Kandidat Gubernur Kedepan.

Dalam melakukan percepatan pembangunan di provinsi Bengkulu, maka dibutuhkan “keberanian” dan jaringan kuat ditingkatan pusat. Relasi (trust) pemerintah daerah dan pusat yang sejalan akan memudahkan setiap upaya kebijakan yang dibuat nantinya. Publik bisa membandingkan pengalaman kepemimpinan Agusrin M Najamudin dan petahana, dimana dengan kepemimpinan sekarang hampir tidak ada program kebijakan yang benar-benar menyentuh persoalan masyarakat kelas bawah; seperti handtractor untuk petani, revitalisasi pantai panjang, pemerataan “kue”pembangunan dari Muko-Muko hingga Kaur, serta program-program lainnya.

Dan ditambah lagi dengan permasalahan secara presentase realisasi penerimaan APBD juga yang mengalami penurunan, yaitu dari 23,28% pada triwulan III 2018 menjadi 14,20% pada triwulan III 2019. Penurunan realisasi APBD ini dipengaruhi oleh penurunan realisasi pada pendapatan asli daerah (PAD) dan dana perimbangan. Hal tersebut mengungkap lemahnya kepiawaian petahana dalam mengelola pemerintahan.

Akselerasi pembangunan harus diupayakan dengan serius dan berkelanjutan. Berlatar belakang sebagai birokrasi murni pada diri petahana ternyata belum cukup untuk mengakselerasi dan meyakinkan pemerintah pusat untuk memberikan ruang pembangunan yang besar di provinsi Bengkulu.

Berbeda dengan penantang Agusrin M Najamudin, walaupun keberaniannya dalam mengambil kebijakannya dalam pembangunan pernah menghadirkan konsekuensi, hasil survey yang didapatkan adalah murni dari basis tradisional selama kepemimpinannya terdahulu. Masyarakat diakar rumput tidak pernah membangun asumsi dan penilaian yang berangkat dari dinamika (elit) politik yang terjadi, objektifitas penilaian terhadap kepemimpinan hanya berasal dari kebijakan yang menyentuh langsung terhadap persoalan hidupnya sehari-hari.

Hal ini juga terkonfirmasi dari perolehan suara yang dihasilkan dalam pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang diikuti oleh (adik kandungnya) Sultan B Najamudin, kurang lebih dua ratus ribu suara diperolehnya, yang sekaligus mendudukkannya menjadi salah satu unsur pimpinan ditingkatan pusat.

Berlatar belakang pengusaha (bahan peledak, tambang, pemain saham diluar negeri dan lain-lain) dan juga dikenal akrab dilingkungan istana, tentu dukungan partai politik maupun sumberdaya politik lainnya telah dimiliki. Hanya bagaimana kemudian sumber daya politik tersebut dapat dimanfaatkan dengan tepat untuk sebesar-besarnya digunakan dalam kepentingan (penguatan) rakyat.

Siapakah Yang Paling Berpeluang Menduduki Gubernur Bengkulu?

Dengan hasil survey yang menujukkan disparitas sangat kecil antara (Rohodin Mersyah dan Agusrin M Najamudin), mengindikasikan peluang penantang petahana sangat besar untuk menang. Dengan lemahnya angka survey yang ditunjukkan petahana dimungkinkan karena ketidak mampuan mesin pemenangannya dalam memanfaatkan modal sosial hasil dari investasi kepemimpinan lima tahun sebelumnya. Dimana seharusnya kontruksi pembangunan opini yang baik, basis yang terjaga dan kekuatan infrastruktur politik yang maksimal tidak berhasil dibangun oleh tim pemenangan.

Agusrin M Najamudin memiliki peluang besar dalam kemenangan pilgub, hanya saja mesin politik harus mulai dibentuk sampai ketingkatan akar rumput dengan tugas utama adalah memberi kepastian tentang pencalonannya kembali pada pilgub 2020 kepada seluruh pendukung dan konstituennya. Kesimpang siuran kabar tentang maju atau tidaknya Agusrin M Najamudin menimbulkan efek tergerusnya suara dibasis pemilih.

Setelah itu, Agusrin M Najamudin sebagai penantang petahana harus mampu menawarkan program dan visi yang persuasif sesuai dengan kompetensi dan rekam jejak yang dimilikinya untuk kembali mengambil pengaruh suara. Sebutan “Bapak Pembangunan Bengkulu” yang disematkan oleh para partisannya adalah kekuatan antitesa dari petahana. Dan ini adalah salah satu poin keunggulan yang harus di elaborasi oleh mesin pemenangan.

Terakhir, gaya politik juga akan menentukan dalam interaksi antara calon dan konstituen. Agusrin M Najamudin memiliki gaya komunikasi politik yang friendship (kepada seluruh lapisan masyarakat) bahkan funky kepada kalangan pemilih milenial dan penampilan apa adanya ketika berhadapan dengan publik. Dan itu merupakan simbolisasi politik yang ampuh dalam merebut hati dan pikiran rakyat kelas bawah.  Sementara petahana yang lebih terkesan “mapan” lebih diterima diwilayah kalangan menengah dan sesepuh.

Dengan semua potensi yang dimiliki secara figur (personal branded) yang dimiliki Agusrin M Najamamudin, maka siapapun calon wakil Gubernur yang akan dipilihnya, peluang untuk memenangkan pilgub 2020 sangat besar.

Penulis : Medio Yulistio, SE